ASSALAMUALAIKUM WR WB
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 04 Februari 2012

Senangnya Belajar Astronomi di Observatorium Bosscha Lembang Bandung



Kamis, 26 Januari 2012. Dua buah bus AC terlihat mengisi ruang parkir sekolah kami, memang sekolah kami cukup luas area parkirnya ditambah beberapa lapangan terbuka hijau yang juga luas untuk kami bermain bola, Badminton, dan permainan-permainan lainnya yang biasa dilakukan oleh anak-anak seusia kami. Alhamdulillah...Kami sangat bersyukur dan merasa beruntung bisa sekolah di SD Almuslim karena kami bisa bermain sambil belajar sepuasnya tanpa khawatir akan polusi udara.

Hari ini, Pagi pukul 05.50 Kami seluruh warga level/kelas 4 SD Al Muslim Tambun Bekasi dengan penuh semangat telah berkumpul  di sekolah untuk melaksanakan KBM Lapangan (Kegiatan Belajar Mengajar luar ruang kelas) di Observatorium Bosscha Lembang, nah...dua bus AC yang parkir di depan sekolah kami itulah yang akan menemani kami dalam perjalanan ke lokasi KBM Lapangan.

Para guru pembimbing kami diantaranya : Pak Arba’in, Bu Yuli Astuti, Bu Leni Mariana, Pak Jamal, Pak Ahmad, Pak Zein, Pak Senang, Bu Sri Sulastri, Bang Deni, dan Mbak Amel (salah satu alumni SD Al muslim yang sedang bertugas mengabdi pasca nyantri di Pondok  Modern Gontor Putri Mantingan), mereka para guru kami yang tangguh dan siap mendampingi, menjaga, dan mengarahkan kami saat KBM Lapangan di Bosscha  Lembang nanti.

Pengarahan saat tiba di lokasi
Kami tiba pukul 08.30 WIB waktu setempat, para guru pembimbing yang dikomandoi oleh Pak Arbain dan Pak Ahmad mengumpulkan kami, lalu memberikan beberapa arahan sebelum memasuki ruangan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss. Ketika kami berbaris menunggu giliran masuk, cuaca agak sedikit mendung ditambah semilir angin yang berhembus, menambah dinginnya udara Kota Lembang yang berada pada  ketinggian 1.310 meter di atas permukaan laut. Terbayangkan dinginnya…

Berbaris menuju pintu masuk
ruang teleskop Refraktor Ganda Zeiss
Setelah menunggu beberapa detik, pintu Ruangan Teleskop Refraktor Ganda Zeisspun terbuka, lalu keluarlah beberapa siswa-siswi SMPN 1 Ciputat, ternyata bukan hanya kami yang berkunjung pada hari ini, menurut informasi yang kami dapat, setiap tahun puluhan ribu siswa dan Mahasiswa berkunjung ke Bosscha untuk belajar mengenai astronomi.  Setelah semua pelajar SMPN 1 Ciputat keluar ruangan, kamipun dipersilahkan masuk, di dalam sudah menanti seorang petugas pemandu dan sebuah teleskop raksasa dengan pondasi berbentuk lingkaran berdiameter ± 10 meter yang bisa berputar dan naik-turun, kamipun berdiri di sekelilingnya. Kemudian pemandu tersebut menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan teleskop Raksasa tersebut, baik nama dan jenis teleskop, teknis pengunaan dan kegunaannya serta sejarahnya.
Seorang pemandu mempraktekkan
cara pemakaian teleskop

Saat yang kami tunggupun tiba yaitu sesi tanya jawab, kami memberondong pemandu dengan pertanyaan-pertanyaan yang beraneka ragam, sehingga tak terasa waktu satu jam begitu cepat berlalu, namun kami seakan tak terpuaskan, karena sebetulnya masih ada beberapa teman kami yang tak sempat diberi waktu untuk bertanya, sebab waktu kunjungan telah usai. Beberapa pertanyaan yang sempat diutarakan adalah sebagai berikut :

“Terbuat dari bahan apakah teleskop raksasa ini pak ?” Tanya Ayuni Nur Fuadah kelas 4 Ibnu Sina

“Teropong terbuat dari besi baja” Jawab Bapak pemandu


Sesi tanya jawab dengan pemandu
“Mengapa teleskop hanya digunakan pada malam hari pak?” Tanya Rahma Aprilia kelas 4 Ibnu  Rusyd.

“Karena pada malam hari bisa melihat bintang dan meteor” Jawab Bapak Pemandu

“Bagaimana perawatan teleskop rakasasa ini?” Tanya Helma kelas 4 Al kindy

“Lensa dan bodinya dibersihkan setiap 2 minggu sekali” Jawab Bapak Pemandu.

“Apa saja yang dapat dilihat dengan teleskop raksasa ini pak?” tanya Shabira Nurul Azeeza kelas 4 Alfaroby.


Sesi tanya jawab
“Yang dapat dilihat adalah bulan, galaksi, planet, meteor serta benda-benda angkasa lainnya” Jawab Bapak Pemandu

“Pernahkah teleskop ini mengalami kerusakan? Kalau pernah, berapa kali?” Tanya Pak Arbain.

“Teleskop pernah mengalami kerusakan pada zaman penjajahan Jepang, kemudian Belanda menjajah kembali dan memperbaikinya” jawab Bapak Pemandu



“Mengapa Observatorium ini dinamakan Bosscha ?” Tanya Bu Yuli


“Nama Bosscha diambil dari Karel Albert Rudolf Bosscha seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, yang bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.” jawab Bapak Pemandu

Film tentang Astronomi
Setelah Ruangan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, kami melanjutkan kunjungan ke tempat berikutnya, di sini diputarkan film tentang Astronomi. Kami senang sekali karena mendapat pengalaman baru tentang astronomi, kemudian kami berfoto bersama wali kelas masing-masing dan guru pembimbing, selanjutnya kami makan dan shalat berjamaah, lalu bersiap-siap untuk pulang.



Kelas 4 Al Kindy berphoto
di depan bangunan Teleskop Refraktor Ganda  Zeiss
Kelas 4 Ibnu Rusyd berphoto
di depan bangunan Teleskop Refraktor Ganda  Zeiss
Kelas 4 Al Faroby berphoto 
di depan bangunan Teleskop Refraktor Ganda  Zeiss

Kelas 4 Ibnu Sina berphoto 
di depan bangunan Teleskop Refraktor Ganda  Zeiss

Makan siang bersama

Shalat Berjamaah sebelum pulang 

Rangkuman tentang Bosscha

Kota Lembang dikenal di dunia internasional karena keberadaan Observatorium Bosscha yang telah berusia 89 tahun, salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Kota Lembang terletak sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Kota Lembang atau Kota BINTANG (Bersih, Indah, Nyaman, Tertib, dan Anggun) dipilih sebagai tempat observatorium ini bukan tanpa alasan. Terpilihnya Lembang sebagai tempat observatorium ini lebih kepada letak geografisnya yang sangat strategis tersebut. Persatuan Astronomi Internasionalpun mempunyai kode untuk observatorium Bosscha yakni 299. Observatorium Bosscha memiliki fasilitas teropong bintang dan perpustakaan astronomi yang terbaik dan terlengkap koleksinya di Asia Tenggara. Dalam The Astronomical Almanac, nama Lembang tercantum sebagai salah satu tempat di antara beberapa ratus tempat di dunia yang terpilih sebagai lokasi peneropongan bintang.

Observatorium Bosscha didirikan pada 1 Januari 1923 ditandai dengan mulainya perencanaan pembangunan Refractor Ganda Zeiss dengan diameter lensa sebesar 60 cm (24 inchi) dan panjang titik api sekitar 11 meter. Saat pembangunannya selesai pada 7 Juni 1928, teleskop ini menambah jajaran teleskop yang diperhitungkan di belahan Bumi Selatan. Ketika itu teleskop besar yang mengeksplorasi langit selatan hanya refraktor Bloemfontein 27 – inchi di Afrika Selatan (berdiri 1928) dan refraktor Mount Stromo 26 – inchi di Australia (berdiri 1925).

Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Terdapat 5 buah teleskop besar, yaitu:

Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
·        Teleskop Refraktor Ganda Zeiss (tahun 1928)
Merupakan Teleskop utama di Bosscha. Teleskop ini biasa digunakan untuk mengamati bintang ganda visual, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, mengamati planet, mengamati oposisi planet Mars, Saturnus, Jupiter, dan untuk mengamati citra detail komet terang serta benda langit lainnya. Teleskop ini mempunyai 2 lensa objektif dengan diameter masing-masing lensa 60 cm, dengan titik api atau fokusnya adalah 10,7 meter.

Teleskop Schmidt Bima Sakti
·        Teleskop Schmidt Bima Sakti
Merupakan satu-satunya teleskop survey di kawasan Asia Tenggara dan dibangun atas sumbangan UNESCO tahun 1960. Teleskop ini biasa digunakan untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spektrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk ditentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Diameter lensa 71,12 cm. Diameter lensa koreksi biconcaf-biconfex 50 cm. Titik api/fokus 2,5 meter. Juga dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk memperoleh spektrum bintang. Dispersi prisma ini pada H-gamma 312A tiap malam. Alat bantu extra-telescope adalah Wedge Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang , dan alat perekam film.

Teleskop Refraktor Bamberg
·        Teleskop Refraktor Bamberg
Teleskop ini biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari, dan untuk mengamati benda langit lainnya. Dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer untuk mendapatkan skala terang bintang dari intensitas cahaya listrik yang di timbulkan. Diameter lensa 37 cm. Titik api atau fokus 7 meter.

Teleskop Cassegrain GO TO
·        Teleskop Cassegrain GOTO
Teleskop lainnya adalah teleskop Cassegrain GOTO 45-cm (hibah pemerintah Jepang tahun 1989), dengan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut. Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang serta pengamatan spektrum bintang. Dilengakapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometer.

Teleskop Refraktor Unitron
·        Teleskop Refraktor Unitron
Teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan pemotretan bintik matahari serta pengamatan benda-benda langit lain. Dengan Diameter lensa 13 cm, dan fokus 87 cm.

Observatorium Bosscha merupakan sebuah laboratorium astronomi yang menjadi perintis perkembangan astronomi dan ilmu pengetahuan antariksa di Indonesia. Kontinuitas kerja dan tanggung jawab untuk mengembangkan astronomi antar generasi di Indonesia merupakan tugas penting yang dilaksanakan Observatorium Bosscha hingga saat ini. Keberadaan Observatorium ini membuka jembatan untuk beinteraksi dengan dunia ilmiah internasional melalui tukar menukar ilmu pengetahuan.

Keberadaan Observatorium Bosscha memberi kontribusi penting bagi pendidikan formal maupun informal. Observatorium ini dipergunakan sebagai laboratorium astronomi bagi pendidikan sarjana dan pasca sarjana serta sebagai model Observatorium maupun museum astronomi dalam dunia arsitek dan seni rupa. Selain itu, setiap tahun puluhan ribu siswa berkunjung ke Observatorium Bosscha untuk mempelajari alam semesta melalui interaksi langsung dengan astronom dan pengamatan benda langit menggunakan teleskop.

Observatorium Bosscha merupakan aset berharga bagi bangsa Indonesia sehingga lingkungan di sekitarnya perlu dijaga kelestariannya. Lingkungan Observatorium harus tetap terjaga dari polusi cahaya maupun polusi angkasa (kandungan aerosol), agar pengamatan benda langit tidak terganggu. Konservasi terhadap kawasan di sekitar Observatorium telah dilakukan dengan menjadikan Observatorium Bosscha sebagai Benda Cagar Budaya. Lingkungan konservasi tidak menghalangi “pembangunan” Lembang, namun sebaliknya, konsep pembangunan Lembang perlu dipikirkan keunikannya dengan tidak meniru pembangunan kota pada umumnya.

Saat ini, kondisi di sekitar Observatorium Bosscha dianggap tidak layak untuk mengadakan pengamatan. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun ataupun berupa hutan-hutan kecil dan area pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, vila ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran. Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal. Sementara itu, kurang tegasnya dinas-dinas terkait seperti pertanahan, agraria dan pemukiman dikatakan cukup memberikan andil dalam hal ini. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

Nah teman-teman, itulah pengetahuan yang kami dapatkan selama KBM Lapangan di Observatorium Bosscha  Lembang Bandung, semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan teman-teman tentang Astronomi. Amin...

Salam Kami

Siswa-siswi Level 4 SD Al Muslim

10 komentar:

Subhanallah...benar-benar banyak pengetahuan yang bermanfaat didapat dari Observatorium Bosscha ya...

salam

http://arebyne.wordpress.com/

Iya pak, terima kasih ya...semoga pengetahuan-pengetahuan yang lainnya juga dapat dishare lagi di sini, mohon doanya...

alhamdulillah...dengan berkunjung ke boscha kita mendapat wawasan baru tentang astronomi....dan anak- anak juga seneng bisa melihat langsung teropong raksasa Zeis....bravo level 4

Alhamdulillah...mudah-mudahan anak-anak bisa mengambil manfaatnya ya bu...

senang sekali saya juga bisa ikutan ke Bosca, jadi tambah ilmu

Mudah-mudahan bermanfaat ya bu...n nambah pengetahuannya...semoga semua siswa membaca tulisan ini sehingga banyak manfaat yang bisa kita bagikan ke orang banyak...Good luck. Ma'an Najaah...

Thank goodness !setelah kunjungan ke bosscha semakin menambah pengetahuan & pengalaman ,I am so glad!!

@amalia : Alhamdulillah...semoga menjadi sebuah pengalaman yang mengesankan dan tak terlupakan Ya mbak Amel...Good luck, Ma'an Najaah...

Iya Pak...makasih ya sudah berkunjung

Posting Komentar

Ayo Join

IDBUX AksenClix