ASSALAMUALAIKUM WR WB
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 24 Oktober 2011

MENDIDIK DENGAN CINTA, MELAYANI SEPENUH HATI ( Makalah Seminar Orang Tua / FOM Level 5 dan 6)

Anak merupakan karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada pasangan suami istri. Setiap pasangan mengharapkan hadirnya seorang anak sebagai penerus keturunan dan pelengkap kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Namun demikian, banyak pasangan seringkali lupa bahwa memiliki anak memerlukan kesiapan dari berbagai sisi, baik dari sisi materi maupun fisik, mental dan spiritual.

Menurut penelitian dari psikolog anak, disimpulkan bahwa lebih dari 90% permasalahan anak disebabkan oleh kesalahan atau ketidaktahuan orangtua akan cara komunikasi dan penyampaian nilai yang baik terhadap sang anak. Bagi kebanyakan orangtua, sadar maupun tidak sadar, seringkali memperlakukan anak sebagai "robot" yang bisa diperintah dan harus menjalankan setiap perintah yang diberikan kepadanya. Mereka melupakan bahwa seorang anak juga merupakan suatu individu dalam bentuk lebih kecil yang memiliki, perasaan, keinginan, dan tindakan. Seorang anak membutuhkan perhatian dan kesabaran orang tua dalam menghadapinya.

 
Realitas kehidupan adalah sebuah akumulasi kesadaran bergerak berdasarkan alur peta sukses yang kita rencanakan.  Sebagai orang tua kita memiliki tiga pilihan untuk buah hati kita. Pilihan pertama adalah hidup sebagai orang tua nyasar, pilihan ke dua adalah hidup sebagai orang tua bayar, dan pilihan ketiga adalah hidup sebagai orang tua sadar.
 
Pilihan pertama adalah sebagai orang tua NYASAR.  Pilihan ini mendeskripsikan kehidupan sosok orang tua yang disebut sebagai ayah/ibu dikarenakan pernah melahirkan keturunan, tanpa persiapan ilmu, tanpa mau belajar setelahnya, dan menjadi orang tua hanyalah beban yang tidak kunjung padam. Kehidupan yang dijalani bukanlah bagian dari apa yang sebenarnya dia inginkan dan rencanakan. Orang tua model ini hanya menjalankan kehidupan sehari-hari dengan perulangan tanpa kemajuan. Penuh kejenuhan, keluhan dan penderitaan.  Hidup tanpa ilmu, tanpa buku, tanpa latihan dan akhirnya dia merasa terperangkap dan terpedaya dari lingkungan, tapi tidak berani keluar dari perangkap itu. Dia merasa bosan berkepanjangan sebagai orang tua dan akhirnya kehilangan rasa riang dan nikmat dalam hidup ini. Antusiasmenya merosot entah kemana dan akhirnya merasa terkucilkan dan merasa tidak berarti.  Dia merasa hidup sepi meskipun berada di tengah-tengah keramaian orang banyak. Dia mengalami gejala psikologis lonely syndrome.  Orang tua type ini dipastikan melihat anak sebagai beban dan masalah.  Ketika Anda membaca makalah ini saya pastikan bahwa Anda tidak masuk kategori orang tua Nyasar.  Nyatanya Anda mau belajar, mau membaca bahkan mau investasi ikut acara ini.  Selamat Anda terbebas dari predikat pertama. “Orang tua Nyasar”
 
Pilihan kedua adalah Orang Tua BAYAR, mendeskripsikan kehidupan Orang Tua yang hanya menggantungkan pihak ketiga dalam mendidik dan mengembangkan potensi anak. Merasa sudah cukup dengan mengirimkan anak pada sekolah favorit, kursus yang mahal, guru privat yang handal, training-training yang menjanjikan tanpa harus merasa perlu terlibat secara aktif pada perkembangan dan kemajuan anak.  Prinsip orang tua BAYAR adalah dengan  uang aku bisa lakukan segalanya.  Dia bisa protes pada sekolah ketika rapor anak jelek, marah pada guru agama ketika akhlak anak jeblok, menyalahkan guru dan pihak sekolah ketika anak tidak lulus ujian nasional.  Baginya pengeluaran yang besar harus sebanding lurus dengan prestasi anak. Semakin besar pengeluaran semakin besar tuntutan.  Kategori orang tua kedua ini sebenarnya sama dengan orang tua nyasar, bedanya dia masih peduli mengeluarkan sejumlah uang demi masa depan buah hati. Kami istilahkan sebagai orang tua nyasar plus.  Artinya ketika dia sudah tidak mampu memiliki kemampuan finansial yang cukup maka dia tidak jauh beda dengan orang tua nyasar.  Begitulah gambaran hidup orang tua nyasar.  Hati-hati, ketika Anda mengikutsertakan putra-putri Anda ikut pendidikan ataupun kursus apapun yang sifatnya hanya ikut-ikutan, tidak tahu tujuan aktivitas yang sebenarnya, menginginkan hasil instan, dan akhirnya kecewa karena pendidikan tanpa pendampingan orang tua akan pincang, bagaikan handphone tanpa pulsa. Bagi Anda yang merasa dalam golongan ini mudah-mudahan tersadarkan setelah training ini.  Dan menemukan cara baru dengan sudut pandang baru.
 
Pilihan ketiga adalah Orang Tua SADAR, mendiskripsikan bahwa Orang tua benar-benar tahu dan sadar bahwa dia sedang mengerjakan tugas mulia sebagai penanam dasar-dasar karakter  kehidupan buah hati.  Dia sadar bahwa dia adalah pemain utama dalam pembentukan karakter dan pola laku anak.  Orang lain adalah pendukung kemajuan sang anak. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Dia mengerjakan perjalanan besar menuju titik finish yang dia gambarkan dalam blue print kesuksesan bagi buah hatinya. 
 
Persepsi Tentang Anak
 
Anak adalah dirinya, bukan diri Anda dan bukan Anda yang dahulu. Anak Anda adalah amanah, ia buah hati dan bukan anak buah. Anak hanyalah ujian sekaligus perhiasan dalam kehidupan Anda, dan bukan untuk bahan pujian, bukan objek untuk dipamerkan. Anak Anda butuh perhatian, tapi jangan Anda lupa memberinya kepercayaan.
 
Anak Anda adalah kekasih, maka kasihilah dengan sepenuh hati dan bukan sesuka hati, apalagi menyakitinya atas nama cinta kasih yang suci. Anak Anda adalah cinta, dan cinta tidak pernah lelah, maka belajarlah untuk mencintai kelelahan.  Sebuah kata mutiara yang sangat menyentuh para orang tua, termasuk saya dan Anda adalah  “ Ketika Anda tidak memiliki waktu untuk buah hati Anda ketika dia belia dan membutuhkan Anda, maka tunggulah diapun tidak akan memiliki waktu untuk Anda ketika Anda tua di saat Anda membutuhkannya”.  Ada hukum tabur tuai, Anda menabur angin besok menuai badai.
Jangan pernah sekalipun Anda katakan kepada Anak Anda, "Aku lelah membesarkanmu, kamu sulit diatur..." Tapi katakanlah, " Aku mencintaimu..” dan katakanlah dalam hatimu “aku serahkan kelelahanku kepada Allah  yang Maha Mengatur..."
 
Anak Anda hanyalah titipan sang Khaliq yang menciptakan dan memiliki. Sehingga jika Anda yang memiliki masalah dengan anak Anda, sungguh, sebenarnya masalah Anda adalah dengan Tuhan Anda yang memilki Anak Anda.  Berkomunikasilah dengan sang pencipta, hikmah apa dibalik setiap kejadian dan peristiwa terkait buah hati Anda. Sebab, anak hanyalah ujian, agar Anda selalu merasakan syukur, sehingga Anda tetap bertahan dan berTuhan.
 
Generasi Intan atau Generasi Instan?
 
Ternyata era yang serba instan ini telah membuat banyak orang menjadi terlena. Usaha kecil, tawakkal kecil, tapi berkeinginan hasil yang besar. Ya, inilah efek psikologis  yang timbul oleh kebiasaan instanisme.
 
Memang betul, dahulu sempat populer prinsip ekonomi yang berujar, “Dengan modal sekecil mungkin harus menghasilkan keuntungan yang sebesar mungkin”. Lalu waktu pun membuktikan bahwa prinsip ekonomi yang instan tersebut kini tak lagi berlaku. Sebagaimana juga dalam urusan ibadah, sangat tidak cocok ketika Anda berprinsip, “Dengan ibadah sekecil mungkin maka akan menghasilkan pahala sebesar mungkin.”
 
Yakinlah bahwa hidup ini menjalani Hukum Keseimbangan. Kalau Anda ingin pahala yang luar biasa, maka Anda harus meraihnya dengan perjuangan yang luar biasa, dan berserahlah padaNya dengan sepenuhnya. Itulah ciri Generasi Intan, sebuah generasi yang mengharagai proses, dan bukan sekedar menghargai hasil. Arahkan buah hati Anda menjadi GENERASI INTAN itu, dan bukan termasuk GENERASI INSTAN.
 
Di dalam diri Anak Anda terdapat intan yang tidak akan pernah bersinar karena Anda terlanjur membiasakan kehidupan anak Anda dalam wilayah yang instan, wilayah yang dipenuhi fasilitas,  serba mudah sehingga merangsang hadirnya sifat pemalas.
 
Itulah bahayanya jika Anda terbiasa memberikan fasilitas yang berlebihan kepada Anak Anda. Selain intan dalam diri anak Anda menjadi tidak bersinar, ada pula bahaya lainnya yang bisa timbul, yaitu tumpulnya hati, tumpulnya rasa, dan tumpulnya empati dari sang anak. Ya, begitulah yang bisa terjadi jika anak Anda terlalu dimanjakan kebutuhan fisiknya.
 
Tidak ada cara yang paling efektif untuk melahirkan generasi intan, kecuali keterlibatan orang tua sebagai pendidik yang sadar.  Sehebat apapun sebuah pelatihan, pasti ada kata usai.  Sehebat apapun sebuah sekolah pasti ada kelulusan, dan semuanya akan dikembalikan kepada orang tua sebagai pemegang amanah sebenarnya dari sang ilahi sebagai sebuah titipan suci yang akan ditanyakan diakherat nanti.
 
Nyasar, bayar, sadar………, sebuah pilihan.

TIPS MENJADI ORANG TUA SADAR
8  Langkah cerdas menjadi Orang Tua sadar yang berpengaruh
1.    Tangkap Basah kebaikan anak Anda . Tempa besi selagi panas.
Berdasarkan pengamatan kami, hari ini lebih banyak orang tua yang lebih suka menangkap basah kekurangan dan kelemahan anak, sehingga anak menjadi semakin jauh, kurang nyaman dan akhirnya merasa tidak terhargai.  Tangkap basah kebaikan sebenarnya mudah, katakana saja hal baik yang dia lakukan, ungkapkan rasa senang Anda dan tutuplah dengan ucapan terimakasih.  Contoh  : “ Nah gitu dong, baru anak Ayah, mau sarapan pagi dan pakai sepatu sendiri.  Ayah senang melihat kamu sudah mulai dewasa, terimakasih saying insyaallah kamu akan jadi orang hebat.
2.    Mulai dengan kata positip, sikap positip dan berita bahagia menyenangkan.
3.    Hapuskan kata mengeluh, menunda, malas, menyalahkan dan banyak alasan dalam diri Anda baik dihadapan anak maupun ketika sendirian.
4.    Hindari perbandingan yang tidak adil.
5.    Sebut namanya, berikan kesan anak Anda adalah orang penting.
6.    Buktikan apa yang telah Anda katakan adalah bagian dari apa yang Anda lakukan. Minimalnya sedang dalam proses melakukan
7.    Kalaupun Anda harus marah, maka marahlah yang membangun dan berdampak positif.
8.    Hargai hasil karyanya, akui dan rayakanlah
Anda mampu masuk ke otak bawah sadar Anak sehingga menjadi Sistem Kepercayaan (Belief System) dengan melakukan 5 hal dibawah ini.
  1. REPETISI
Suatu informasi yang diulang-ulang capat atau lambat bila kita tidak hati-hati dan sadar akan kita temui sebagi kebenaran.  Repetisi dapat menembus filter mental yang ada dipikiran sadar yang berikutnya masuk pada pikiran bawah sadar.  Dalam berbagai seminar kita diajarkan untuk mengucapkan afirmasi yang dibaca berulang-ulang pagi, siang dan malam dengan harapan afirmasi masuk kedalam pikiran bawah sadar.
Contoh afirmasi  “ Kalian adalah anak cerdas, penuh semangat dan murid terbaik yang pernah saya ajar. Saya yakin, kalian mampu menjadi angkatan terbaik, saya yakin dan saya yakin. Insyaallah pasti”
 
  1. IDENTIFIKASI KELOMPOK ATAU KELUARGA
Hal-hal yang dipercayai para Orang Tua, keluarga atau kelompok kita lambat laun akan masuk kedalam diri kita dan berikutnya kita adopsi sebagai belief anak kita.
Contoh  : Angka 13 angka sial.
  1. IDE YANG DISAMPAIKAN FIGUR YANG DIPANDANG MEMILIKI OTORITAS
Hati-hati terhadap figure otoritas, seperti  kepala sekolah, wali kelas, Orang Tua, guru favorit atau teman berpengaruh.  Apa yang disampaikan mereka cenderung masuk ke pikiran bawah sadar dan diterima sebagai kebenaran.
  1. EMOSI YANG INTENS
Sebuah pengalaman yang dialami dengan emosi yan g intens akan sangat mudah menjadi belief yang kuat.
Contoh seorang Orang Tua berkata bahwa pelajaran matematika itu susah, rumit dan bisa membuat pusing kalau tidak sungguh sungguh.  Kemudian dibuktikan dengan nilai ujian yang jelek-jelek dan akhirnya sang Orang Tua berkata “ betul khan kata saya, kalian tidak akan mampu matematika kalau kalian terus menerus malas seperti ini.”  Contoh lain , seorang anak yang senantisa melihat ayah dan ibunya sering ribut dan bertengkar soal uang , akan percaya uang sebagai sumber keributan keluarga, ,maka anak tersebut tumbuh dengan belief yang menghambat dirinya dibidang financial.
  1. KONDISI ALFA (HIPNOSIS)
Apa yang masuk dalam otak bawah sadar melalui sugesti akan diterima sepenuhnya sebagai suatu kebenaran.
 
Semoga bermanfaat, salam sukses bahagia mulia, dan mampu menghantarkan putra putri Anda ke jenjang terbaik. Amin.
 
 
Arsi Ahmad Jaya (MR Sugesti Indonesia) dapat dihubungi di 0818101446
 
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Ayo Join

IDBUX AksenClix